27 June 2008
Kuliah Lapangan Mahasiswa Kesling Poltekes di KKP Jayapura
25 June 2008
Depkes tidak Berdaya Tolak Namru-2

Lebih lengkap, klik : http://www.kkp-jayapura.com/ind/berita.php?ids=132&kel=2
PELATIHAN COMPUTER MANDIRI BAGI KARYAWAN KKP JAYAPURA

Selengkapnya kunjungi situs resmi kkp jayapura dengan klik :
http://www.kkp-jayapura.com/ind/berita.php?ids=123&kel=1
22 June 2008
Namru-2 : Martabat Bangsa Harus Tetap Ditegakkan

”Kerja sama itu akan dilihat kembali. Apakah akan diratifikasi lagi atau tidak? Pemerintah tidak akan mengorbankan rakyatnya. Jangan sampai membuat keputusan yang merugikan bangsa,” kata Staf Khusus Presiden Bidang Pertahanan Keamanan Irvan Edison dalam diskusi yang diselenggarakan Indonesia Club di Jakarta, Jumat (20/6).
19 June 2008
BERITA DUKA CITA UNTUK SELURUH KELUARGA BESAR KKP SE INDONESIA

Depkes Operasikan Situs ASEAN+3 Emerging Infectious Diseases

18 June 2008
PELATIHAN PENGADAAN BARANG DAN JASA DIIKUTI STAF KKP JAYAPURA DAN KKP MERAUKE

16 June 2008
MENSANA INCORPORE SANO DI KKP KELAS II JAYAPURA

13 June 2008
Berita Duka dari Papua: Wafatnya dr Muhamad Haris Dr PTT Arso III Kab Kerom Krn Kecelakaan Lalu Lintas

01 June 2008
Kegiatan BLOM (Pos Lintas Batas) RI-PNG di Keroom

KKP Jayapura Ikut Pelatihan Pendektesian Dokumen Palsu (Pasport)

14 May 2008
Pemberitahuan Launching Situs KKP Jayapura Yang Baru..

KKP Jayapura meluncurkan situs baru dengan nama domain www.kkp-jayapura.com. Situs ini merupakan kelanjutan situs kkp jayapura sebelumnya yang ada pada blogspot.com. Dengan peluncuran situs baru ini diharapkan penampilan berita dari KKP Jayapura dapat lebih menarik. Dibuat dalam 2 versi bahasa (Indonesia dan Inggris) maksudnya adalah agar bisa dimengerti oleh masyarakat internasional. Disamping itu sebagai sarana bagai staf KKP Jayapura untuk belajar English dalam menyampaikan berita/kegiatan program.Kunjungi kami dan mohon cantumkan saran masukan anda di buku tamu. Tks.
01 May 2008
07 March 2008
Rapat Koordinasi Pimpinan Karantina (KKP, Tumbuhan, Hewan, dan Ikan)

1. Kepala KKP Jayapura (Junghans Sitorus, SKM. M.Kes)
2. Kepala Karantina Tumbuhan (David Daud Suweny, SP)
3. Kepala Karantina Hewan (Drh. A.K. Jailani)
4. Kepala Karantina Ikan (Drs. Nurhaidin)
Silver Whisper Cruiser tiba di Jayapura

23 February 2008
FK-UNCEN MENGIKUTI KULIAH DI KKP JAYAPURA

Mahasiswa FK-UNCEN Ak-2 Sm-9 ke KKP Jayapura

DIRJEN PP-PL BERSAMA PIMPINAN DAN STAF KKP JAYAPURA
RAPAT KONSULTASI HIV AIDS KPA PROVINSI JAYAPURA DAN STAKEHOLDERS TERKAIT

Peserta : KPA Provinsi Papua serta seluruh stake holders HIV di Papua dan Papua Barat
- Promosi HIV/Aids akan segera dilaksanakan di port maupun di alat angkut baik darat, laut, maupun udara disesuaikan dengan keadaan masing-masing wilayah dan jenis alat angkut.
- Dinas Perhubungan dan jajarannya agar segera membuat edaran agar di setiap terminal, pelabuhan dan bandara di seluruh wilayah Provinsi Papua dapat dilaksanakan sosialisasi HIV
- Segera dilakukan pertemuan yang lebih teknis untuk perencanaan operasionalisasi kebijakan ini.
19 February 2008
KKP Jayapura Kerjasama dengan Lintas Sektor KPA Prop Papua utk Sosialisasi Kondom di Kapal Pelni dan di Bandara Sentani
Selengkapnya : http://www.papua.go.id/berita_det.php/id/1673
18 February 2008
Kabupaten Jayapura Patut Jadi Percontohan Dalam Hal Penanggulangan HIV/AIDS
SENTANI-Dari hasil pemantauan dan evaluasi Badan Penasehat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, terungkap bahwa Kabupaten Jayapura patut dijadikan sebagai kabupaten percontohan dalam penanggunangan penyakit HIV/AIDS.
Hal ini disampaikan Ketua Badan Penasehat KPA Nasional dr Saryadi Gunawan saat ditemui di Kampung Yokiwa, Ahad (17/2)."Kami melihat pak Bupati aktif dalam penanggulangan penyakit HIV-AIDS di Kabupaten Jayapura dan selama ini "ungkap Suryadi.
Alasan mengapa bisa dijadikan percontohan karena Kabupaten Jayapura lebih aktif mensosialisasikan serta memberikan protect dengan perlakuan pemberian kondom pada tempat yang memang seharusnya diberikan.
Suryadi juga mengatakan tingkat penyebaran penyakit yang belum memiliki obat paten ini khusus di Papua sudah mencapai tingkat yang patut diwaspadai mengingat dengan jumlah jiwa yang tidak sebanding dengan kota besar lainnya, tapi penyebarannya dikatakan sangat cepat, ini karena pola masyarakat dalam melakukan hubungan seks pada tingkat beresiko cukup tinggi.
Suryadi juga meminta kepada kepala-kepala daerah untuk berfikir bahwa masalah AIDS adalah masalah Papua dan harus ada kesadaran untuk bersama menanggulanginya.
"Pemerintah harus bekerjasama dengan pihak gereja atau masjid untuk selalu mengingatkan masyarakat akan resiko HIV/AIDS. Juga meminta dinas kesehatan untuk bisa melakukan pendeteksian sejak dini serta aktif memberikan sosialisasi," pintanya.(ade)
08 February 2008
Menkes Luncurkan Buku Saatnya Dunia Berubah
Praktek virus sharing yang sudah berlaku lebih dari 50 tahun, ternyata banyak merugikan negara miskin dan negara berkembang asal virus. Sementara perusahan vaksin yang dimiliki negara maju dengan mudahnya mengambil virus tanpa seijin pemilik dan mengembangkannya menjadi vaksin dan produk diagnostik lainnya kemudian menjualnya ke negara miskin dan berkembang dengan harga yang sangat mahal.
Hal ini terkuak ketika di Indonesia ditemukan kasus pertama virus Flu Burung(Avian Influenza =AI) pada manusia pertengahan tahun 2005, dimana untuk penentuan diagnosis Indonesia diwajibkan mengirim sampel virus ke WHO Collaborating Center di Hongkong. Hal ini berlangsung hingga Agustus 2006. Tetapi tanpa sepengetahuan Indonesia, sampel virus tersebut diberikan ke perusahaan pembuat vaksin di negara maju.
Maka sejak itu, Menkes memutuskan untuk memeriksa spesimen Flu Burung cukup dilakukan 2 laboratorium di dalam negeri yakni Laboratorium Badan Litbangkes dan Laboratorium Eijkman. Hal ini sejalan dengan kemampuan yang dimiliki laboratorium Indonesia untuk memeriksa virus H5N1, yang terbukti selama kurang lebih 1 tahun hasilnya selalu sama dengan laboratorium AI di Hongkong. Tetapi Indonesia tetap membuka akses bagi para peneliti dunia dengan menempatkan data AI pada Gen Bank (public domain). “Demi kepentingan umat manusia, pemerintah Indonesia menyatakan bahwa data genom pada virus Flu Burung bisa diakses semua orang,” tegas Menkes saat itu (10/8/06).
Majalah The Economist menulis, “Siti Fadilah Supari memulai suatu revolusi yang mungkin menyelamatkan dunia dari dampak buruk penyakit pandemi. Hal ini terucap karena Menteri Kesehatan Indonesia telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman virus Flu Burung: transpatansi.”
Berbekal dari pengalaman itulah, Menkes Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) tergerak hatinya untuk mengubah sistem virus sharing yang sangat merugikan negara berkembang tersebut dengan sitem yang lebih transparan, adil, dan setara. Ide tersebut kemudian terus diperjuangkan menjadi usulan Indonesia pada Sidang Majelis Kesehatan Dunia (WHA) di Jenewa Swiss. Pada akhir sidang, usulan Indonesia disepakati dan disahkan menjadi Resolusi WHA yang harus dipatuhi semua negara anggota.
Perjuangan Menkes dalam mewujudkan ide tersebut dituangkan dalam sebuah buku berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung. Buku ini dipenuhi rincian menarik tentang bagaimana Siti Fadilah Supari mulai tertarik ke dalam lingkaran pergulatan pertukaran virus sehingga kemudian maju menghadapi berbagai intrik dan tantangan yang berkaitan dengan pertukaran virus H5N1. Pergerakan ini kemudian ternyata menguak ketidakadilan mekanisme pertukaran virus yang telah berjalan selama 50 tahun, di mana negara-negara yang menyumbangkan virusnya tidak dapat meminta hasil penelitian dan tidak dapat mengetahui apa yang terjadi dengan virus yang dikirimkannya. Di dalam buku ini, pembaca dapat mengerti alasan di balik keputusan-keputusan, ide-ide serta alternatif yang dikemukakan Menteri Kesehatan ini demi memperjuangkan hak memperoleh perlindungan dari ancaman virus bagi rakyat Indonesia.
Melalui buku setebal 182 halaman inilah, Menkes mengharapkan dukungan rakyat untuk bersama-sama menyuarakan kepentingan masyarakat Indonesia ke seluruh warga dunia karena perjuangan belum selesai. Siti Fadilah Supari akan terus berjuang hingga tercipta pertukaran virus (virus sharing) yang adil, transparan, dan setara. Dalam kata pembukanya, Menkes menyampaikan maksud bahwa kiranya buku ini menjadi referensi bagi peneliti, praktisi, dan siapapun yang berusaha memperjuangkan, menegakkan martabat dan kedaulatan negara-negara berkembang agar setara dengan negara-negara maju.
Peluncuran buku karangan Menkes wanita pertama di Indonesia ini digelar di Hotel Borobudur Jakarta, Rabu malam (6/1/2008). Acara ini dihadiri berbagai kalangan, diantaranya para menteri Kabinet Indonesia Bersatu, para anggota lembaga tinggi negara (DPR, DPD), para duta besar negara sahabat, para direktur rumah sakit, para direktur BUMN, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah, anggota Organisasi Profesi, para petinggi akademis dari perguruan tinggi, serta para pejabat di dalam Departemen Kesehatan sendiri.
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon 021-52907417, nomor faksimili 021-52907421 dan 52960661, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.
07 January 2008
Pencegahan Demam Berdarah di Kota Jayapura

Daerah seputar Kantor Gubernur Propinsi Papua yang terletak di dok 2 bawah juga dilakukan penyemprotan pencegahan DBD oleh Tim KKP Jayapura
06 January 2008
Jayapura : Dinkes Akan Programkan Peningkatan Gizi
JAYAPURA-Terkait arahan Gubernur Provinsi Papua Barnabas Suebu tentang peningkatan gizi, di mana kondisi gizi yang dialami sebagian besar masyarakat Papua sangat memperihatinkan, maka Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua dr Bagus Sukaswara akan melakukan program kerja yang berhubungan dengan peningkatan gizi tersebut.Dikatakan, pihaknya akan menindaklanjuti arahan itu mengingat kondisi masyarakat Papua memang masih banyak yang hidup dengan gizi yang masih memperihatinkan."Sebagian besar masyarakat Papua hanya mengkomsumsi gizi tunggal, seperti mengkonsumsi ubi/ketela, yang mana dengan hanya mengkonsumsi makanan tersebut kebutuhan gizi tidak terpenuhi,"ujarnya kepada Cenderawasih Pos setelah menghadiri acara penyerahan daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA) dan dokumen pelaksanaan anggaran (DPA) 2008, di Sasana Krida Kantor Gubernur Provinsi Papua, Jumat (4/1).
Diungkapkan, untuk memenuhi kebutuhan gizi, tidak hanya mengkonsumsi satu jenis makanan saja, melainkan harus mendapatkan makanan tambahan seperti lemak, protein dan lain-lain."Oleh karena itu, untuk meningkatkan gizi masyarakat, pihaknya akan memberikan suatu produk yang sesuai dengan kebutuhan, dimana untuk memenuhi kebutuhan gizi di daerah-daerah tidak sama, seperti di daerah Pegunungan dan daerah Pesisir Pantai pemenuhan kebutuhan gizi tidak sama,"ujarnya.Dikatakannya, untuk itu pihaknya melakukan penelitian tentang produk yang cocok digunakan oleh di masing-masing daerah tersebut, dengan menggunakan bahan utama makanan dari ketela/ubi dengan memberikan tambahan beberapa jenis bahan makanan yang diperlukan terutama pemenuhan kebutuhan gizi bagi wanita hamil dan Balita."Saya harapkan adanya partisipasi dari semua pihak atau instansi seperti dinas perikanan, dinas perindustrian dan instansi lainnya karena ini merupakan tanggung jawab bersama, dimana untuk menghasilkan suatu produk yang dibutuhkan perlu adanya kerja sama yang baik di antara instansi terkait,"tandasnya. (cr-145)
04 January 2008
Di Biak, IRT Terbanyak Mengidap HIV/AIDS, Data Dinas Kesehatan Sampai 31 Desember 2007
BIAK-Memprihatinkan. Begitulah kondisi penyebaran penyakit HIV/AIDS di Kabupaten Biak Numfor. Bagaimana tidak, hingga dengan 31 Desember 2008 tercatat 385 kasus, atau naik 10 kasus dari bulan sebelumnya. Dari total kasus itu, 51 adalah kasus HIV dan 334 kasus AIDS.Parahnya lagi, dari 10 kasus yang ditermukan pada Desember 2008 itu terdapat 5 orang ibu rumah tangga (IRT) dan 2 orang PNS, wiraswasta 1 orang, buruh kasar 1 orang dan tani 1 orang.Kalau dilihat dari sisi komulatif pekerjaan secara keseruluhan kasus HIV/AIDS di Biak Numfor, IRT yang mendominasi dengan jumlah kasus 117 orang. Selanjutnya disusul petani dengan jumlah kasus 64 orang, yang tidak memiliki pekerjaan 47 orang, siswa/mahasiswa 35 orang, PSK/PSJ sebanyak 21 orang, swasta 21 orang, sedangkan yang bekerja dibidang lain-lainnya rata-rata dibawa 20 kasus.
“ Kalau dilihat dari cara penularannya, hampir semuanya melalui hubungan seks. Sedangkan IRT yang dominan terinfeksi, itu kemungkinannya tertular dari sang suami yang melakukan hubungan seks beresiko (bukan dengan pasangannya),” kata Survelans HIV/AIDS Dinas Kesehatan Biak Numfor, Ruslan, S.Sos, S.KM, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (31/12).Jumlah sebanyak itu sebenarnya masih jauh lebih besar jika mengacu pada teori gunung es. Dimana, gunung es di permukaan laut yang kelihatan sangat sedikit, sementara tidak kelihatan jauh lebih besar lagi.Kondisi penyakit yang mematikan ini memang sangat memprihatinkan dan perlu mendapat perhatian dari semua komponen. Pasalnya penyakit yang satu ini belum ada obatnya, sementara kasusnya dari waktu ke waktu terus meningkat.
Menurut Ruslan ada tiga hal yang perlu menjadi perhatian sebagai resep pencegahan. Antara lain, jangan berhubungan seks bagi yang belum menikah (puasa seks), upayakan jangan berganti-ganti pasangan terutama pada kelompok resiko tinggi dan orang yang belum dikenal (belajar setia pada pasangan). “Selain itu bagi kelompok yang beresiko tinggi, hendaknya menggunakan kondom setiap melakukan hubungan seks dengan orang lain dan bila mengidap infeksi menular seksual (IMS), jangan sekali-kali melakukanm hubungan seks dengan siapapun,” imbuhnya. (ito)